“Tugas yang paling penting jika kita menyelamatkan bumi yaitu dengan cara mendidik"

(The most important task, if we are to save the earth is to educate)

Sir Peter Scott, Founder WWF

“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita maka kembalikanlah secara utuh"

“Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melibatkan cara melihat dunia yang berbeda.”

Inger BjÖrneloo, Pelatih Guru, Universitas GÖteborg Swedia

“Bumi dapat mencukupi kebutuhan umat manusia, tetapi tidak untuk keserakahannya.”

Mahatma Gandhi

“Bumi adalah rumahku, rumahku adalah bumiku, tak heran aku harus menjagamu”

“Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik”

“Pembangunan lestari memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Kebersihan akan melahirkan banyak nilai-nilai positif. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan membuat anda dipenuhi berbagai karakter-karakter positif”

“Siapapun yang merenungi alam semesta, akan tersadar akan besar dan melimpahnya keagungan Zat yang telah menciptakan semesta ini”

Tuhan menciptakan Alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berfikir

Petiklah milyaran hikmah yang terdapat dalam Alam, niscaya Alam tak letih memberikan anda pelajaran tentang kehidupan

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VI SDN 2 Karangrejo Kecamatan Ulubelu Kabupaten Tanggamus Pada Konsep Gejala Alam Di Indonesia Mata Pelajaran IPS dengan Model Pembelajaran Examples Non-Examples Tahun Pelajaran 2015/2016

Oleh: Haris Agus Istanto, M.Pd. - SDN 2 Karangrejo, Ulubelu, Tanggamus, Lampung 

ABSTRAK 

Dari data yang ada diketahui untuk nilai mata pelajaran IPS pada ulangan sumatif semester 1 tahun 2014/2015 bahwa rata-rata nilai adalah 49,84. Dalam hal ini rata-rata itu sangat rendah. Dari masalah di atas maka peneliti untuk menganalisis masalah yang ada yaitu: Siswa kurang berminat pada mata pelajaran IPS karena IPS tidak termasuk mata pelajaran dalam UN, Motivasi siswa kurang, Guru kurang menggunakan media pembelajaran, kalaupun menggunakan media yang digunakan guru kurang menarik, Metode yang guru laksanakan kurang bervariasi, Buku-buku yang ada di sekolah kurang mendukung, Buku referensi IPS yang ada di sekolah minim, dan Dukungan dari orang tua kurang. Dari beberapa alternatif pemecahan masalah yang ada, penulis memprioritaskan untuk perbaikan dalam kegatan belajar mengajar dengan mencoba menggunakan model pembelajaran yang baru dan menarik bagi siswa. Model pembelajaran Examples Non-Examples menarik untuk digunakan dalam materi Gejala Alam di Indonesia mata pelajaran IPS. Berdasarkan identifikasi dan analisis maka dapat dirumuskan masalah pokoknya adalah: Apakah penerapan model pembelajaran examples non-examples dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN 2 Karangrejo pada materi Gejala Alam di Indonesia mata pelajaran IPS? Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran: meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran bagi siswa, guru, dan sekolah. 

Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran tiga siklus dapat disimpulkan bahwa: model pembelajaran yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa, model pembelajaran Examples Non Examples dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dengan model pembelajaran yang menarik dapat memotivasi siswa untuk belajar mata pelajaran IPS, PTK dapat meningkatkan hasil belajar siswa. PTK dapat menambah acuan guru dalam membuat pembelajaran yang bermakna. 

Kata Kunci: IPS, Model Pembelajaran, dan Hasil belajar 

PENDAHULUAN 

Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. 

Di masa mendatang peserta didik dihadapkan dengan tantangan yang berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu, maka IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Maka pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. 

Pembelajaran IPS di SDN 2 Karangrejo masih rendah ini terlihat pada tabel beikut ini: 

Dari data di atas diketahui untuk nilai mata pelajaran IPS pada Mid semester 2 bahwa rata-rata nilai adalah 49,84. Dalam hal ini rata-rata itu sangat rendah. Walaupun ada beberapa orang anak yang nilainya melebihi KKM. 

Menurut Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana (2012) model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam mensiasati perubahan perilaku peserta didik secara adaptif maupun generatif. Dengan pembelajaran yang baik maka diharapkan hasil yang didapat juga baik. 

Dari masalah di atas maka peneliti bersama dengan teman sejawat mencoba untuk menganalisis masalah yang ada dan hasil diskusi kami adalah sebagai berikut: Siswa kurang berminat pada mata pelajaran IPS karena IPS tidak termasuk mata pelajaran dalam UN, Motivasi siswa kurang, guru kurang menggunakan media pembelajaran, kalaupun menggunakan media yang digunakan guru kurang menarik, metode yang guru laksanakan kurang bervariasi, buku-buku yang ada di sekolah kurang mendukung, buku referensi IPS yang ada di sekolah minim, dan dukungan dari orang tua kurang. 

Dari masalah-masalah yang ada di atas peneliti bersama dengan teman sejawat mencoba untuk mencari alternatif untuk masalah di atas. Dan prioritas perbaikanpun perlu dilakukan. Dari beberapa alternatif pemecahan masalah yang ada, penulis memprioritaskan untuk perbaikan dalam kegiatan belajar mengajar dengan mencoba menggunakan model pembelajaran yang baru dan menarik bagi siswa. Model pembelajaran Examples Non-Examples menarik untuk digunakan dalam materi Gejala Alam di Indonesia mata pelajaran IPS. 

Berdasarkan identifikasi dan analisis maka dapat dirumuskan masalah pokoknya adalah: Apakah penerapan model pembelajaran examples non-examples dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN 2 Karangrejo pada materi Gejala Alam di Indonesia mata pelajaran IPS? 

Perbaikan Pembelajaran dengan diskusi bertujuan: meningkatkan pemahaman siswa tentang masalah social, meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial, menarik siswa untuk giat belajar Ilmu Pengetahuan Sosial, meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, mengefektifkan model pembelajaran untuk mencapai ketuntasan belajar. 

Dengan model pembelajaran examples non-examples memberi banyak manfaat baik bagi siswa, guru maupun sekolah. Diantaranya manfaat bagi siswa untuk meningkatkan motivasi bagi siswa dalam belajar IPS dan bagi guru menambah referensi dan penggunaan model pembelajaran pada KBM. 

KAJIAN PUSTAKA

Menurut Deiruc yang dikutip Hamamik (1980) dalam Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana (2012) menyatakan aktifitas belajar dibagi ke dalam delapan kelompok, yatitu sebagai berikut: Kegiatan-kegiatan visual, kegiatan-kegiatan mendengarkan, kegiatan-kegiatan menulis, kegiatan-kegiatan menulis, kegiatan-kegiatan menggambar, kegiatan-kegiatan metrik, kegiatan-kegiatan mental, kegiatan-kegiatan emosional. Sardiman (1994 - 1995) mengatakan bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas belajar. Sedangkan Jamarah (2000 : 67) mengemukakan bahwa belajar sambil melakukan aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi anak. Sebab kesan yang didapatkan oleh si anak didik lebih tahan lama tersimpan di dalam benak anak didik. 

Mengajar belajar adalah kegiatan guru murid untuk mencapai tujuan tertentu. Di duga, makin jelas tujuan makin besar kemungkinan ditemukan model pembelajaran dan metode penyampaian yang paling serasi. Namun tidak ada pegangan yang pasti tentang cara mendapatkan model dan metode mengajar yang paling tepat. Tepat tidaknya suatu model dan metode, baru terbukti dari hasil belajar murid. metode mengajar Mengajar pada umumnya usaha guru untuk menciptakan kondisi-kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara murid dengan lingkungan, termasuk guru, alat pelajaran dan sebagainya yang disebut dengan proses belajar, sehingga tercapai tujuan yang telah ditentukan. Demikian pula menggunakan suatu model dan metode mengajar untuk segala tujuan belajar tidak akan efektif. Yang menimbulkan kesulitan ialah untuk mengetahui yang manakah model dan metode yang paling serasi untuk mencapai tujuan pelajaran tertentu. 

Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar (Udin Winataputra, 1994,34). Berikut ini beberapa model pembelajaran beserta langkah-langkah pembelajarannya diambil dari buku Konsep Strategi Pembelajaran karangan Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana (2012) : Picture and picture, Numbered heads Together, Cooperative Script, Students Teams Achievement Divisions (STAD), Jigsaw, Problem Based Introduction, Artikulasi, Two Stay Two Stray, dan Examples Non Examples. 

EXAMPLES NON EXAMPLES

Contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan KD 

Langkah-langkah: 

  • Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran 
  • Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP 
  • Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
  • Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas 
  • Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya 
  • Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai 
  • Kesimpulan 

IGAK Wardani dan Kuswaya Wihardit (2012) menyatakan penelitian tindakan kelas merupakan satu penelitian pula, yang dengan sendirinya mempunyai berbagai aturan dan langkah yang harus diikuti. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu satu action research yang dilakukan di kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat. 

Hipotesis Tindakan 

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pikir di atas hipotesis tindakan dapat di rumuskan sebagai berikut “ Dengan model pembelajaran Examples Non Examples dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS pada siswa kelas VI SD Negeri 2 Karangrejo Kecamatan Ulubelu Tahun Pelajaran 2015/2016? 

METODOLOGI PENELITIAN 

Subyek Penelitian, Tempat Penelitian, dan Waktu Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas VI semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016 dengan jumlah siswa 15 orang, 6 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di SD Negeri 2 Karangrejo Kecamatan Ulubelu Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Sekolah ini terletak di Dusun Kampungtengah Desa Karangrejo. Dusun ini terletak 2 km dari pusat desa dan 5 kilometer dari pusat kecamatan. Waktu pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran adalah dari tanggal 27 Juli 2015 sampai dengan 26 Agustus 2015. 

Penelitian ini dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi dibantu oleh teman sejawat yang sekaligus merupakan observator. Teman sejawat mengamati baik kelemahan maupun kelebihan pembelajaran dan ikut memberikan masukan perbaikan pembelajaran persiklus. Langkah-langkah yang ditempuh dalam perbaikan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah rencana perbaikan pembelajaran dilaksanakan 2 kali tatap muka setiap mata pelajaran setelah diketahui data awal hasil observasi. Adapun tahap rencana perbaikan adalah sebagai berikut: 

Siklus 1

  • Mempersiapkan rencana pembelajaran, memilih sumber dan bahan 
  • Menetapkan alat evaluasi, lembar kerja siswa
  • Membuat lembar observasi kegiatan siswa 
  • Menetapkan waktu pelaksanaan dan menganalisa hasil pembelajaran 
  • Menyusun jadwal penelitian dan instrumen untuk memperoleh data. 

Siklus 2

  • Mengidentifikasi masalah 
  • Mencari alternatif pemecahan masalah dan prioritasnya 
  • Merencanakan jumlah siklus yang akan direncanakan 
  • Menetapkan SK dan KD serta indikator pembelajaran
  • Menyusun rencana pembelajaran perbaikan 1 
  • Menetapkan alat evaluasi 
  • Melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran 1 
  • Mengambil data kegiatan pembelajaran 1 dan menganalisis data tersebut 
  • Mengadakan refleksi dengan melihat kelemahan dan kelebihan pembelajaran 1 

Siklus 3 

  • Menetapkan SK dan KD serta indikator pembelajaran 
  • Menyusun rencana pembelajaran perbaikan 2 
  • Menetapkan alat evaluasi 
  • Melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran 2 
  • Mengambil data kegiatan pembelajaran 1 dan menganalisis data tersebut 
  • Mengadakan refleksi dengan melihat kelemahan dan kelebihan pembelajaran 2 
  • Mengumpulkan data dan menganalisa data tersebut 

Dari ketiga siklus diatas dapat di gambarkan sebagai berikut:


Target pencapaian per siklus adalah jika 70 % siswa telah mencapai KKM, KKM IPS kelas VI SDN 2 Karangrejo Kecamatan Ulubelu tahun pelajaran 2015/2016 adalah 6,5. 

Menurut Mills (2000) dalam IGAK Wardani menyatakan bahwa analisis data adalah upaya yang dilakukan oleh guru yang berperan sebagai peneliti untuk merangkum secara akurat data yang telah dikumpulkan dalam bentuk yang dapat dipercaya dan benar. Sedangkan interpretasi data adalah upaya peneliti untuk menemukan makna dari data yang dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Agar data tersebut bermakna maka data tersebut harus dianalisis atau diberi makna. Pada tahap pertama, data diseleksi, difokuskan , jika perlu ada yang direduksi karena itu tahap ini sering disebut reduksi data. Kemudian data diorganisir sesuai dengan hipotesis atau pertanyaan penelitian yang ingin dicari jawabannnya. Tahap kedua, data yang sudah terorganisir ini dideskripsikan sehungga bermakna, baik dalam bentuk narasi, grafik, maupun tabel. Akhirnya, berdasarkan paparan atau deskripsi yang telah dibuat ditarik kesimpulan dalam bentuk pernyataan atau formula singkat. Data yang ada dianalisis untuk pertimbangan perlu tidaknya siklus berikutnya dilakukan. Perbaikan pembelajaran sesuai tujuan akhir penelitian ini jika hasil pembelajaran siswa telah mencapai 70% atau lebih. Sehingga jika keberhasilan siswa belum mencapai 70% atau lebih maka perlu meningkat ke siklus berikutnya. 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Pembahasan Hasil Penelitian 

Perbaikan Pembelajaran Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar (Udin Winataputra, 1994,34). Dari pendapat di atas maka dapat diketahui bahwa model pembelajaran merupakan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Dengan penggunaan model pembelajaran secara optimal maka tujuan belajar akan tercapai. Dalam hal ini tujuan mata pelajaran IPS yaitu materi gejala alam Indonesia dan negara-negara tetangga. 

Hasil Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Persiklus 


Berdasarkan data-data yang diperoleh selama dua kali dilaksanakan Perbaikan Pembelajaran, terdapat peningkatan yang sangat memuaskan. Dari data di atas diketahui hasil belajar IPS pada siklus 1 rendah. Dari 15 siswa hanya 6 orang yang tuntas atau 40 % sedangkan yang belum tuntas adalah 9 orang siswa atau 60%. Data hasil pembelajaran dalam siklus 2 terlihat mulai ada peningkatan hasil belajar siswa baik peningkatan nilai maupun peningkatan kinerja guru. Dari data di atas diketahui jumlah nilai total dari 15 siswa adalah 1040 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 50. Sedangkan tingkat ketuntasan belajar dari 15 orang anak ada 9 orang anak yang telah tuntas atau 60% sedangkan yang belum tuntas ada 6 orang anak yang belum tuntas atau 40%. Namun walaupun ada peningkatan, indikator keberhasilan perbaikan ini adalah jika yang tuntas lebih dari 70 % sedangkan pada siklus 2 yang tuntas hanya 60%. Sehingga kami mengambil kesimpulan perlunya peningkatan ke siklus 3. Pada siklus 3 diketahui tingkat ketuntasan belajar dari 15 orang anak ada 12 orang anak yang telah tuntas atau 86,7 % dan dibulatkan menjadi 87 % sedangkan yang belum tuntas ada 2 orang anak yang belum tuntas atau 3 %. Sedangkan indikator keberhasilan penelitin ini adalah 70% anak telah lulus KKM maka perbaikan pembelajaran diakhiri pada siklus ini karena tingkat keberhasilan telah mencapai lebih dari 70%. 

SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT 

Simpulan 

Berdasarkan hasil pembahasan yang dilakukan penulis setelah menganalisa data dari pensekoran penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa dari analisa baik keberhasilan siswa dalam mengikuti tes formatif atau kegiatan lainya menunjukkan kenaikan yang berarti dan positif. Kenaikan positif menunjukkan bahwa minat kreatifitas dan motifasi siswa dalam belajar juga mengalami peningkatan. Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran examples non-examples hasil belajar siswa kelas VI semester 1 materi keragaman sosial mata pelajaran IPS dapat meningkat. 

Saran dan Tindak Lanjut 

Saran yang dapat penulis berikan kepada guru dalam menyampaikan pembelajaran adalah sebagai berikut: 

  1. Sebaiknya menggunakan model pembelajaran yang ada dengan mengikuti secara runtut langkah-langkah pelaksanaannya. 
  2. Guru mencari referensi sebanyak-banyaknya tentang model pembelajaran. 
  3. Guru hendaknya memahami prinsip dalam penerapan metode pembelajaran yang berlangsung. 
  4. Interaksi antara guru dan siswa perlu untuk ditingkatkan untuk membantu keberhasilan pembelajaran di kelas. 

DAFTAR PUSTAKA 

  • Hanafiah, Nanang, Dkk. (2012), Konsep strategi Pembelajaran, Bandung, Refika Aditama. 
  • Sapriati, Amalia. 2013, Pembelajaran IPA di SD, Universitas Terbuka, Tangerang Selatan. 
  • Udin S. Winataputra,dkk (2008) Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, UT. 
  • Wardani, I.G.A.K., dkk. (2013), Pemantapan Kemampuan Profesional, Tangerang Selatan, Universitas Terbuka. 
  • Wardani, I.G.A.K. dkk., 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Pusat Penerbitan Jakarta, Universitas Terbuka.