“Tugas yang paling penting jika kita menyelamatkan bumi yaitu dengan cara mendidik"

(The most important task, if we are to save the earth is to educate)

Sir Peter Scott, Founder WWF

“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita maka kembalikanlah secara utuh"

“Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melibatkan cara melihat dunia yang berbeda.”

Inger BjÖrneloo, Pelatih Guru, Universitas GÖteborg Swedia

“Bumi dapat mencukupi kebutuhan umat manusia, tetapi tidak untuk keserakahannya.”

Mahatma Gandhi

“Bumi adalah rumahku, rumahku adalah bumiku, tak heran aku harus menjagamu”

“Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik”

“Pembangunan lestari memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Kebersihan akan melahirkan banyak nilai-nilai positif. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan membuat anda dipenuhi berbagai karakter-karakter positif”

“Siapapun yang merenungi alam semesta, akan tersadar akan besar dan melimpahnya keagungan Zat yang telah menciptakan semesta ini”

Tuhan menciptakan Alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berfikir

Petiklah milyaran hikmah yang terdapat dalam Alam, niscaya Alam tak letih memberikan anda pelajaran tentang kehidupan

Sumber Belajar Di Sekolah

Selasa, 15 Maret 2016 - Oleh : Haris Agus Istanto, S.Pd. Guru SDN 2 Karangrejo Ulubelu

PENDAHULUAN

Sejalan dengan perkembangan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka paradigma pendidikan juga mengalami pergeseran, khususnya mengenai eksistensi guru di dalam interaksi belajar mengajar. Pada masa sebelum IPTEK berkembang seperti masa kini kedudukan guru sangat vital, karena belum banyak informasi atau sumber belajar lain yang dapat dimanfaatkan oleh siswa sehingga guru menjadi satu-satunya sumber informasi/ilmu.

Dewasa ini dengan perkembangan media cetak, media elektronik serta teknologi informasi dan komunikasi sumber belajar atau sumber informasi tersedia sangat melimpah. Setiap peserta didik dapat mengakses berbagai in-formasi yang terkait dengan materi pembelajaran di sekolah dari berbnagai media yang ada dengan sangat mudah. Posisi guru pun tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar.

Pendidikan konvensional memiliki paradigma bahwa guru adalah satu-satunya sumber belajar, sehingga dianggap orang yang paling memiliki pengetahuan. Paradigma itu kemudian bergeser menjadi guru lebih dahulu tahu. Namun sekarang dengan perkembangan ilmu dan teknologi bukan saja pengetahuan guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari gurunya. Itu semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi di sekitar kita sehingga pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar, melainkan guru memiliki fungsi yang lebih luas yaitu sebagai penyedia fasilitas belajar agar siswa mau belajar (fasilitator), sebagai motivator yang memberikan semangat dan energi kepada siswa untuk terus belajar. Selain itu guru harus mampu mengelola kegiatan belajar siswa, memposisikan siswa sesuai minat, potensi, dan kemampuannya dan memanfaatkan setting yang ada (organisator) dan mampu mengevaluasi keberhasilan belajar siswa baik proses maupun hasil (evaluator). Banyak contoh, siswa dapat lebih dahulu mengakses informasi dari berbagai media yang ada seperti surat kabar, televisi, bahkan internet sehingga lebih dahulu tahu dibanding gurunya. Tentu saja kondi-si ini merupakan gejala yang positif sekaligus tantangan bagi para guru untuk memperbaiki proses pembelajaranya.

Dalam posisi demikian, maka guru harus mampu memerankan diri sebagai fasilitator bagi siswa, khususnya dalam pemanfaatan berbagai sumber belajar baik yang tersedia di sekolah maupun di luar sekolah. Guru harus memiliki wawasan pengetahuan yang luas, mengenal teknologi, dan kreatif memanfaatkan situasi lingkungan alam maupun sosial untuk dijadikan sebagai sumber belajar, di samping bahan-bahan pustaka.

SUMBER BELAJAR

Potensi-potensi yang tersebar di sekolah dan di masyarakat berupa sumber belajar harus menjadi perhatian guru untuk diorganisasi dengan baik sehingga berdayaguna positif untuk keberhasilan belajar siswa. Perkembangan teknologi yang ada serta perubahan kurikulum menuntut guru untuk lebih kreatif, tidak lagi selalu menunggu instruksi dari pusat. Guru adalah tenaga profesional, sehingga harus cepat menyesuaikan diri dan mereposisi perannya. Pada saat ini guru tidak lagi harus menjadi orang yang paling tahu di kelas. Namun ia harus mampu menjadi fasilitator belajar dan pengelola sumber belajar bagi siswanya. Banyak sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apakah sumber belajar yang dirancang untuk belajar ataukah yang tidak diran-cang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar.

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Optimalisasi hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar (output) namun juga dilihat dari proses berupa interaksi siswa dengan berbagai macam sumber yang dapat merangsang untuk belajar dan mempercepat pemahaman dan penguasaan bidang ilmu yang dipelajarinya.

Implementasi pemanfaatan sumber belajar di dalam proses pembelajaran sudah tercantum dalam kurikulum. Proses pembelajaran yang efektif adalah proses pembelajaran yang menggunakan berbagai ragam sumber belajar. Kegiatan belajar mengajar ditekankan pada aktivitas siswa dengan melakukan pengamatan benda-benda atau situasi yang ada di lingkungan sekitar. Dari tujuan tersebut dirancang kegiatan pembelajaran memberikan aktivitas siswa untuk melakukan percobaan sederhana yang dapat mempengaruhi pengalaman belajarnya. Misalnya untuk mengenal sifat benda padat, cair, dan gas, melalui percobaan ini tentu siswa memerlukan bahan dan alat berupa sumber belajar baik yang nyata maupun buatan untuk memahami konsep benda dan dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai ilustrasi berikut ini beberapa contoh riil aktifitas pembelajaran ketika menghadapi tuntutan di atas.

Pertama, guru akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar apung. Guru bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila murid sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gambar di buku, maka betapa sulitnya guru menjelaskan hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut. Kalau guru adalah seorang yang ahli bercerita, tentu cerita tersebut akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang diberikan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai dengan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi karena terjadi verbalisme sehingga persepsi guru dengan siswa tidak sama.

Kedua, guru membawa murid untuk melihat objek yang sebenarnya misalnya studi wisata mengunjungi tempat-tempat yang sesuai seperti kebun bi-natang, taman safari, cagar alam atau tempat penangkaran binatang. Selain itu pengalaman belajar berupa sumber belajar yang ada di lingkungan sekolahpun dapat digunakan. Misalnya materi Kenampakan Alam di SD, guru dapat mengajak siswa ke luar kelas melihat kenampakan alam langsung yang ada di sekitar sekolah. Cara ini lebih efektif dibandingkan dengan cara lain misalnya siswa mengenal binatang hanya lewat gambar saja. Konsep ini sejalan dengan pendapat Edgar Dale dalam teorinya Cone Experience yang menjelaskan bahwa hasil belajar dapat diperoleh lebih optimal dengan cara melakukan sendiri atau paling tidak melihat objek nyata. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan Field Trip seperti karyawisata. Dengan demikian diperlukan kreatifitas guru untuk menjadikan pembelajaran lebih efisien namun hasilnya lebih efektif dengan berpijak pada prinsip pengalaman belajar Edgare Dale di atas. Cara kedua ini disebut juga pemanfaatan sumber belajar dengan menggunakan fasilitas yang sudah tersedia dan tidak dirancang secara khusus untuk pembelajaran namun dapat digunakan secara langsung (media by utilization).

Ketiga, disebut media by design. Dalam hal ini guru merancang media sesuai dengan tuntutan tujuan materi dan karakteristik siswa, seperti gambar, foto, film, video tentang objek tersebut untuk dipergunakan di kelas. Cara ini akan sangat membantu guru dalam memberikan penjelasan. Selain menghemat kata-kata, menghemat waktu, penjelasan guru pun akan lebih mudah dimengerti oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilangkan kesalahpamahaman, serta informasi yang disampaikan menjadi lebih konsisten. 

Ketiga tipe pembelajaran di atas dapat kita simpulkan bahwa tipe pertama menggunakan informasi verbal, tipe kedua berupa pengalaman nyata, sedangkan cara ketiga informasi melalui media. Di antara ketiga cara tersebut, cara kedua dan ketiga adalah cara yang paling bijaksana dilakukan, karena dengan melalui pengalaman langsung siswa mudah mengerti, namun dengan menggunakan tipe belajar ketiga pun sangat baik, karena dengan mengguna-kan media dalam proses pembelajaran, belajar menjadi lebih efektif dan efi-sien. 

Jenis-jenis Sumber Belajar 

Enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu: 

  1. Pesan (Message) Pesan merupakan sumber belajar yang meliputi pesan formal yaitu pesan yang dikeluarkan oleh lembaga resmi, seperti pemerintah atau pesan yang disampaikan guru dalam situasi pembelajaran. Pesan-pesan ini selain disampaikan secara lisan juga dibuat dalam bentuk dokumen seperti kurikulum, peraturan pemerintah, perundangan, GBPP, silabus, satuan pembelajaran dan sebagainya. Pesan nonformal yaitu pesan yang ada di lingkungan masyarakat luas yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran misalnya cerita rakyat, legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama, prasasti, relief-releif pada candi, kitab-kitab kuno, dan peninggalan sejarah yang lainnya.
  2. Orang (People) Semua orang pada dasarnya dapat berperan sebagai sumber belajar, namun secara umum dapat dibagi dua kelompok. Pertama, kelompok orang yang didesain khusus sebagai sumber belajar utama yang dididik secara profesional untuk mengajar, seperti guru, konselor, instruktur, dan widyaiswara. Termasuk kepala sekolah, laboran, teknisi sumber belajar, pustakawan dan lain-lain. Kelompok yang kedua adalah orang yang memiliki profesi selain tenaga yang berada di lingkungan pendidikan dan profesinya tidak terbatas. Misalnya politisi, tenaga kesehatan, pertanian, arsitek, psikolog, lawyer, poli-si pengusaha dan lain-lain. 
  3. Bahan (Materials) Bahan merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pe-san pembelajaran, seperti buku paket, buku teks, modul, program video, film, OHT (over head transparency), program slide,alat peraga dan sebagainya (biasa disebut software). 
  4. Alat (Device) Alat yang dimaksud di sini adalah benda-benda yang berbentuk fisik sering disebut juga dengan perangkat keras (hardware). Alat ini berfungsi untuk menyajikan bahan-bahan pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup multimedia Projector, Slide Projector, OHP, Film, tape recorder, Opaqe projector, dan sebagainya. 
  5. Teknik Teknik yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah, permainan/simulasi, tanya jawab, sosiodrama, dan sebagainya. 
  6. Latar (Setting) Latar atau lingkungan yang berada di dalam sekolah maupun lingkungan yang berada di luar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah pengaturan ruang, pencahayaan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, tempat workshop, halaman sekolah, kebun sekolah, lapangan sekolah, dan se-bagainya. 

Sumber belajar yang diuraikan di atas, merupakan komponen-komponen yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran. 

PENUTUP

Proses pembelajaran agar bermakna bagi peserta didik harus memperhatikan karakteristik peserta didik, metode pembelajaran yang sesuai, model pembelajaran, media yang baik, serta sumber belajar yang dapat dipahami siswa karena ada di lingkungan siswa.

Proses pembelajaran yang efektif adalah proses pembelajaran yang menggunakan berbagai ragam sumber belajar. Kegiatan belajar mengajar ditekankan pada aktivitas siswa dengan melakukan pengamatan benda-benda atau situasi yang ada di lingkungan sekitar.

Setelah mempelajari makalah ini diharapkan guru dapat mendapatkan dan memanfaatkan sumber belajar dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran yang relevan di sekolah. Serta diharapkan dapat memahami ragam sumber belajar, memahami pemanfaatan sumber belajar yang tersedia di sekolah, memahami pemanfaatan sumber belajar di luar sekolah, baik berupa lingkungan, lembaga, personal, dan sebagainya. 

Daftar Pustaka

  • Dirjen Dikdas, 1997, Didaktik/Metodik Umum, 1997, Depdikbud, Jakarta.
  • Semiawan, Conny R, Belajar dan Pembelajaran Prasekolah dan Sekolah Dasar, 2008, PT Indeks, Jakarta.
  • Sadiman Arief. 1990. Media Pendidikan, Pengertian Pengembangan dan Pe-manfaatan. Jakarta: Rajawali.
  • Wardani, I.G.A.K.dkk. 2009, Tekhnik Menulis Karya Ilmiah, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta.
  • Zaman, Badru, dkk., 2008, Media dan Sumber Belajar, Edisi ke satu, Pusat Penerbitan UT, Jakarta.