“Tugas yang paling penting jika kita menyelamatkan bumi yaitu dengan cara mendidik"

(The most important task, if we are to save the earth is to educate)

Sir Peter Scott, Founder WWF

“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita maka kembalikanlah secara utuh"

“Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melibatkan cara melihat dunia yang berbeda.”

Inger BjÖrneloo, Pelatih Guru, Universitas GÖteborg Swedia

“Bumi dapat mencukupi kebutuhan umat manusia, tetapi tidak untuk keserakahannya.”

Mahatma Gandhi

“Bumi adalah rumahku, rumahku adalah bumiku, tak heran aku harus menjagamu”

“Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik”

“Pembangunan lestari memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Kebersihan akan melahirkan banyak nilai-nilai positif. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan membuat anda dipenuhi berbagai karakter-karakter positif”

“Siapapun yang merenungi alam semesta, akan tersadar akan besar dan melimpahnya keagungan Zat yang telah menciptakan semesta ini”

Tuhan menciptakan Alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berfikir

Petiklah milyaran hikmah yang terdapat dalam Alam, niscaya Alam tak letih memberikan anda pelajaran tentang kehidupan

Ramah lingkungan di sekitar kita

Sumbangan penyebab pemanasan global seperrti CO2, CFC, CO dan zat-zat berbahaya lainnya dari berbagai aktivitas manusia di muka bumi ini telah mengakibatkan pencemaran udara yang sangat mengkhawatirkan. Udara yang tercemar itu tidak sanggup lagi ditanggulangi oleh alam. Karena kondisi alam pun sudah banyak yang rusak. Hal itu disebabkan pengolahan sumber daya alam secara berlebihan, pencemaran udara, tanah, air dimana-mana dan penebangan hutan secara liar serta kebakaran hutan.

Akibatnya planet bumi “sakit“ kondisinya. Pemanasan global yang telah mengakibatkan perubahan iklim dan terjadinya anomali cuaca yang cukup ekstrim. Musim tidak lagi dapat kita perkirakan sebagaimana biasanya. Saat ini cuaca berganti tiba-tiba. Wah, bila hal ini dibiarkan sangat membahayakan bagi manusia sendiri.

Melihat keaadaan inilah kami dari www.sekolahalamdigita.org menghimbau dan mengajak kita semua untuk menciptakan lingkungan yang hijau dan bersih. Lingkungan yang hijau akan mengolah menghasilkan oksigen lebih banyak sehingga udara menjadi lebih bersih. Karena klorofil dari tumbuhan hijau akan mengubah CO2 menjadi O2. Sehingga diharapkan dapat mengurangi pencemaran udara. Kita bisa memulainya dari tempat tinggal sendiri. Semakin banyak orang yang peduli dan menghijaukan rumah mereka, maka akan tercipta lingkungan yang bersih dan hijau. 

Ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan seperti:  

Ciptakan Gerakan Penghijauan 

Menghijaukan kawasan seperi rumah, sekolah, kampong kita dapat dilakukan dengan menanami berbagai macam tumbuhan. Pekarangan yang hijau tidak selalu berukuran besar, pekarangan yang kecil pun bisa “di hijaukan”. Tumbuhan tersebut bisa tanaman hias, tanaman obat atau tanaman pelindung. Tumbuhannya juga tidak harus besar, walaupun kecil yang penting indah dilihat dan menimbulkan kesan sejuk. Penataan tanaman juga perlu diperhatikan agar tidak menghalangi sinar matahari dan menimbulkan kesan gelap. Selain itu parit di depan juga rumah dapat dimanfaatkan bagi yang tidak punya halaman. Parit tersebut ditutup ( sebaiknya tutup tidak permanen), diatasnya disusun pot-pot yang telah berisi tanaman. Selain hijau, juga tampak lebih indah karena paritnya tidak terlihat. Untuk rumah bertingkat dan tidak mempunyai halaman, dapat dibuat taman di atas atap yang saat ini sedang digalakkan di negara-negara maju.

Membuat Resapan Air 

Hal itu bisa dilakukan dengan membuat Lubang Biopori. Lubang biopori adalah lubang yang dengan diameter 10-30 cm dengan panjang 30-100 cm yang ditutupi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bawah tanah serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tanaman. Lubang biopori dapat dibuat pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, di sekeliling pohon dan pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman. Tujuannya dari pembuatan biopori adalah: 

  • Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah
  • Membuat kompos alami dari sampah organik 
  • Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit
  • Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut
  • Mengurangi resiko banjir di musim hujan
  • Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah
  • Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor. 

Langkah-langkah pembuatan lubang biopori tersebut adalah: 

  • Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm
  • Mulut lubang dapat dikuatkan dengan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 centimeter serta diberikan pengaman agar tidak ada yang terperosok
  • Lubang diisi dengan sampah organik. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami. 

Selain Biopori dapat juga dibuat sumur resapan. Yang dimaksud dengan sumur resapan adalah sarana untuk penampungan air hujan/limbah dan meresapkannya ke dalam tanah. Sumur ini selain berguna menyerap air hujan di pekarangan, juga berguna menyerap limbah air dari rumah tangga. Sumur ini mempunyai fungsi yang sama dengan lubang biopori, yaitu sebagai cadangan air tanah dan juga mencegah limbah mengalir ke laut. Persyaratan sumur yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia adalah: 

  • Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil
  • Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum satu meter dari fondasi bangunan 
  • Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah
  • Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan
  • Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam (artinya, genangan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam). 

Memanfaatkan Sampah 

Hal tersebut dapat dilakukan dengan memilah sampah. Pemisahan sampah dilakukan dengan maksud untuk mempermudah dalam pemanfaatannya. Sampah dipisahkan menjadi 2 yaitu organik, dan anorganik. Sampah anorganik bisa didaur ulang atau diguna ulang menjadi barang yang berguna. Sedangkan sampah organik dapat diolah menjadi kompos. Bisa dengan dimasukkan ke dalam lobang biopori atau diolah sendiri secara sederhana. 

Cara membuat kompos adalah: 

  • Sampah organik yang sudah dipisahkan dimasukkan ke dalam bak plastik atau drum bekas. Di bagian dasarnya diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu
  • Bak pengomposan diletakkan di tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah, bak pengomposan tidak boleh kena air hujan, harus di bawah atap 
  • Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat
  • Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak, dapat pula dicampurkan
  • Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk
  • Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 400C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal, kompos sudah bisa digunakan
  • Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organik), kelembaban (30-50%) dan oksigen untuk dapat bernapas. 

Jika diperhatikan keempat langkah tersebut saling terkait. Sampah organik yang diolah menjadi kompos dapat dipakai untuk memupuk tanaman sehingga menjadi subur. Tanaman yang subur membuat lingkungan menjadi hijau, sejuk dan udarapun bersih. Salah satu cara pembuatan kompos dilakukan dengan lobang biopori. Selain itu biopori juga dapat berfungsi sebagai cadangan air tanah. Sementara itu bak serapan juga dapat menambah cadangan air tanah dan menampung air limbah rumah tangga. Sehingga parit didepan rumah tidak lagi terlihat kotor. Seandainya semua langkah dilakukan oleh masyarakat luas, akan tercipta suatu lingkungan yang hijau, sejuk dan bersih. Kegiatn yang dijabarkan diatas adalah sederhana dan bisa dilakukan siapa saja. 

Nah, tinggal kesadaran bersama dari masyarakat untuk mewujudkan lingkungan yang hijau dan bersih. Apalagi jika seluruh masyarakat dunia mempunyai kesadaran melakukan ini, maka lingkungan hijau ini diharapkan dapat membantu mengurangi kerusakan lingkungan. Artikel tentang gaya hidup ramah lingkungan lainnya bisa diunduh di sekolahalamdigital/index.php/pustaka/download/Gaya Hidup Hijau. (Sibenkq/www.sekolahalamdigital.org)