“Tugas yang paling penting jika kita menyelamatkan bumi yaitu dengan cara mendidik"

(The most important task, if we are to save the earth is to educate)

Sir Peter Scott, Founder WWF

“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita maka kembalikanlah secara utuh"

“Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melibatkan cara melihat dunia yang berbeda.”

Inger BjÖrneloo, Pelatih Guru, Universitas GÖteborg Swedia

“Bumi dapat mencukupi kebutuhan umat manusia, tetapi tidak untuk keserakahannya.”

Mahatma Gandhi

“Bumi adalah rumahku, rumahku adalah bumiku, tak heran aku harus menjagamu”

“Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik”

“Pembangunan lestari memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Kebersihan akan melahirkan banyak nilai-nilai positif. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan membuat anda dipenuhi berbagai karakter-karakter positif”

“Siapapun yang merenungi alam semesta, akan tersadar akan besar dan melimpahnya keagungan Zat yang telah menciptakan semesta ini”

Tuhan menciptakan Alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berfikir

Petiklah milyaran hikmah yang terdapat dalam Alam, niscaya Alam tak letih memberikan anda pelajaran tentang kehidupan

Mengolah kertas koran dan kardus bekas menjadi kertas daur ulang

Jum'at, 3 Maret 2017

Konsumsi kertas di Indonesia terus meningkat satu kilogram (kg) per kapita tahun atau sekitar 220 ribu ton (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia - APKI, 2003). Dengan itu, maka Indonesia membutuhkan pembangunan satu pabrik kertas baru setiap tahunnya menyusul lahapnya konsumsi kertas dalam negeri (Kapanlagi.com, 7-01-08).

Data Rainforest Information Center menyebutkan sebanyak 10-17 pohon harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekira 7.000 eksemplar koran. Dan ini mengakibatkan laju deforestasi hutan Indonesia pada periode tahun 1985-1998 tidak kurang dari 1,6 juta hektar per tahun (Dephutbun, 2000).







Bagaimana cara kita agar dapat menghemat kertas?

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghemat kertas adalah dengan mendaur ulang kertas tersebut menjadi kertas. Prosesnya mudah, bisa dilakukan oleh siswa-siswa sekolah dasar. Dengan perlengkapan sederhana, seperti blender, bak besar, screen sablon, rakel, triplek/matras serta kertas koran, kardus (kertas yang tidak dicampur dengan plastik).

Para siswa SDN 1 Datarajan, SDN 2 Karangrejo, SDN 1 Sukamaju bersama tim WWF melakukan praktek pembuatan daur ulang kertas di sekolah. Dengan penuh semangat para siswa dari kelas 3 hingga kelas 6 mulai menggunting koran dan karton menjadi kecil, lalu di rendam dalam air. Setelah di rendam, mereka siap menggiling kertas dengan blender. Rupanya menggiling kertas dari kardus lebih susah, karena masih keras. Akhirnya mereka menggiling hasil robekan koran.

Proses ujicoba pembuatan daur ulang kertas, membuat anak-anak berebutan ingin mencoba. Semua ingin tahu cara membuat kertas daur ulang. Tak jarang, kertas yang mereka hasilkan, terlalu tebal, terlalu tipis dan tidak sama tebal. Hal ini membuat mereka semakin penasaran untuk mecoba dan mencoba lagi. Usaha yang mereka lalukan dilanjutkan esok harinya.

Belajar dari pengalaman, membuat mereka semakin mengetahui cara membuat yang benar. Tidak lupa mereka membawa kunyit dan daun pandan untuk pewarna kertasnya. Proses penjemuran bubur kertas hingga jadi, menjadi tanggung jawab bersama. Setelah kertas daur ulang jadi, masing-masing mulai berkreasi. Kreasi yang dibuat mulai dari membuat buku, kotak pinsil dan pembatas buku.

Semoga dengan praktek sederhana bisa memberi perubahan untuk lingkungan sekitar mereka. (Nv)