EnglishFrenchGermanItalianJapaneseKoreanRussianSpanish

“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita maka kembalikanlah secara utuh"

“Tugas yang paling penting jika kita menyelamatkan bumi yaitu dengan cara mendidik"

(The most important task, if we are to save the earth is to educate)

Sir Peter Scott, Founder WWF

“Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melibatkan cara melihat dunia yang berbeda.”

Inger BjÖrneloo, Pelatih Guru, Universitas GÖteborg Swedia

“Pembangunan lestari memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Kebersihan akan melahirkan banyak nilai-nilai positif. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan membuat anda dipenuhi berbagai karakter-karakter positif”

Modul Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB) Berbasis Kearifan Lokal Kuantan Singingi

Kamis, 7 Juli 2022, oleh Gianini Sonnevil  

Transformasional, Multidisiplin dan Holistik: Modul Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB) Berbasis Kearifan Lokal Kuantan Singingi  

Peluncuran pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (PPB) oleh UNESCO dan UNEP pada 1987 menyebabkan transformasi tujuan dan arah pendidikan secara global. Sejak saat itu pemerintah, praktisi pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat berlomba-lomba mengintegrasikan isu tersebut dalam satuan pendidikan. Krisis iklim, kelangkaan pangan dan isu biodiversitas merupakan beberapa tema yang menjadi latar belakang pentingnya keterlibatan pendidikan dalam upaya mengatasi isu keberlanjutan dunia. Para ahli meyakini bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam mengedukasi serta meningkatkan kesadaran generasi saat ini sehingga tercipta keseimbangan lingkungan, sosial dan ekonomi.

Mempunyai pengalaman lebih dari 50 tahun tentang isu konservasi yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan, WWF Indonesia bersama pemerintah kabupaten Kuantan Singingi, Lembaga Adat Melayu Riau Kerapatan Adat Kuantan Singingi dan guru-guru mata pelajaran sains sosial (seni budaya, prakarya dan budaya melayu riau) mengembangkan buku PPB berbasis muatan lokal Kuantan Singingi. Dengan menggunakan metode addie (Analisis, Development, Design, Implementation, Evaluation), buku PPB memungkinkan multipihak untuk mengoreksi setiap tahapannya. Buku ini disusun selama 1 tahun hingga akhirnya diluncurkan pada 28 Maret 2022 di kantor Bupati Kuantan Singingi.

Keunikan buku PPB terletak pada karakter buku yang multidisiplin dan holistik. Buku ini menyilangkan 3 mata pelajaran berbeda yaitu Budaya Melayu Riau, Prakarya dan Seni budaya dalam tema-tema kearifan lokal yang dilengkapi dengan pesan konservasi. Misalnya tema ‘Pacu Jalur’ di pembelajaran Prakarya dan Budaya Melayu Riau, siswa tidak hanya diajarkan tentang tradisi pacu jalur, pembuatan miniatur jalur dan ragam hias jalur tetapi juga menjaga sungai dan hutan. Ancaman seperti pendangkalan sungai serta pembalakan liar dapat mengganggu kearifan lokal dan lingkungan di kuantan singingi. 

Apa jadinya bila tradisi pacu jalur tanpa sungai yang sehat, indah dan bersih? Tentu saja tradisi tersebut tidak dapat berlangsung dengan baik bahkan dapat punah. Keterkaitan setiap tema dan mata pelajaran memfasilitasi siswa melihat tantangan yang ada secara menyeluruh / holistik. Hingga saat ini, belum banyak buku pelajaran di tingkat sekolah menengah pertama yang dikembangkan dengan pendekatan tematik.

Menjadi sebuah terobosan baru di dunia pendidikan di Provinsi Riau, rasa bangga dan senang tentu saja dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Saat peluncuran buku, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Drs. Masrul Hakim, M.Pd.I menyampaikan rasa bangga bahwa Kuantan Singingi memiliki buku yang berisikan 100 persen kearifan lokal daerahnya. 

Khususnya buku pelajaran Budaya Melayu Riau, kebanyakan berisi kearifan lokal Riau secara umum seperti sejarah candi muara takus yang terletak di Kabupaten Kampar ataupun Istana siak yang berada di Siak. Buku ini tidak hanya bertujuan menjaga kearifan lokal Kuantan Singingi tetapi memastikan harmoni antara lingkungan, sosial dan ekonomi. Senada dengan kepala dinas, Dr. Prima Wahyu Titisari, sebagai dosen berpengalaman dibidang PPB sekaligus penulis memberikan apresiasi yang besar terhadap guru-guru yang terlibat dari awal hingga akhir penyusunan buku. Menurut Drs. Martunus selaku perwakilan Lembaga Adat Melayu Riau Kerapatan Adat Kuantan Singingi, kehadiran buku ini merupakan sebuah capaian bersama namun ada beberapa bagian dari buku yang dapat ditingkatkan, seperti kedalaman tema dan variasinya.

Transformasi pendidikan dengan mengintegrasikan isu konservasi dan pembangunan berkelanjutan di lebih dari 2 atau 3 mata pelajaran secara terpadu lebih efektif daripada mengintegrasikan PPB pada satu mata pelajaran atau diajarkan secara mandiri. Dari segi kuantitas waktu belajar, siswa akan mendapatkan waktu yang lebih lama untuk mempelajari isu tersebut sehinggu mereka akan memahaminya dari berbagai bidang. Selain itu, pengguna buku, guru mata pelajaran dari lintas disiplin yang berbeda, didorong untuk selalu berkolaborasi, berpikir kritis dan kreatif dalam menyusun perangkat mengajar berdasarkan buku tersebut.

Dengan kekayaan tradisi dan sumber daya alam, yang dimiliki Kuantan Singingi, juga besarnya tantangan globalisasi, seluruh pihak memiliki andil dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Pemerintah, pelajar, masyarakat, guru–guru memiliki peran yang berbeda namun visi yang sama untuk konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Pemerintah dapat mendukung dengan kebijakan yang lebih ramah lingkungan dan pelajar dapat meningkatkan pengetahuan serta kesadarannya dalam menjaga alam.