“Tugas yang paling penting jika kita menyelamatkan bumi yaitu dengan cara mendidik"

(The most important task, if we are to save the earth is to educate)

Sir Peter Scott, Founder WWF

“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita maka kembalikanlah secara utuh"

“Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melibatkan cara melihat dunia yang berbeda.”

Inger BjÖrneloo, Pelatih Guru, Universitas GÖteborg Swedia

“Bumi dapat mencukupi kebutuhan umat manusia, tetapi tidak untuk keserakahannya.”

Mahatma Gandhi

“Bumi adalah rumahku, rumahku adalah bumiku, tak heran aku harus menjagamu”

“Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik”

“Pembangunan lestari memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Kebersihan akan melahirkan banyak nilai-nilai positif. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan membuat anda dipenuhi berbagai karakter-karakter positif”

“Siapapun yang merenungi alam semesta, akan tersadar akan besar dan melimpahnya keagungan Zat yang telah menciptakan semesta ini”

Tuhan menciptakan Alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berfikir

Petiklah milyaran hikmah yang terdapat dalam Alam, niscaya Alam tak letih memberikan anda pelajaran tentang kehidupan

SD 01 Datarajan Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan lewat Prakarya “Bantal Sampah”

Februari 2016 - Oleh Citra Ayu Wardani - BBS News (LAMPUNG)

Menyadari peranan sekolah dalam memberikan dorongan kepada siswa untuk menumbuhkan rasa kepedulian lingkungan, SD 01 Datarajan di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, mengenalkan ide prakarya “Bantal Sampah” kepada siswa-siswinya sebagai salah satu bentuk penerapan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB)/ Education for Sustainable Development (ESD).

Bantal Sampah berbeda dengan bantal umumnya yang terbuat dari busa atau dakron. Bantal Sampah SD 01 Datarajan menggunakan sampah-sampah plastic yang telah dibersihkan dan dipotong-potong sebagai pengganti busa dakron. Murid kelas 1, 2 dan 3 membantu kakak-kakaknya di kelas 4, 5 dan 6 untuk mengumpulkan sampah dari lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal mereka. Kelas 4, 5 dan 6 yang telah dibagi dalam kelompok membersihkan sampah-sampah plastik tersebut terlebih dahulu kemudian dipotong-potong.

Tidak hanya guru dan siswa yang terlibat dalam kegiatan ini, orang tua murid juga berperan membuatkan sarung untuk bantal sampah. Tak jarang orang tua murid berkreasi dengan bordiran-bordiran pesan-pesan cinta lingkungan pada sarung bantalnya.

Suroso, guru kelas dan kesenian SD 01 Datarajan, mulai mengenalkan ide prakarya bantal sampah di sekolahnya sejak awal tahun 2014. Sebelumnya, ia telah mengikuti kegiatan lokalatih PPB yang diadakan WWF Indonesia pada akhir tahun 2013 bersama dengan 30 orang guru perwakilan dari sekolah-sekolah di Tanggamus, Lampung. Sekolah-sekolah tersebut berada di daerah yang berdekatan dengan kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, rumah bagi spesies endemik Sumatera seperti gajah, harimau dan badak Sumatera.

“Tujuan dari pembuatan bantal ini adalah untuk menjaga lingkungan sekolah bebas dari sampah plastik. Yang kedua, kami mengajak anak-anak untuk berkreasi menghasilkan karya yang bermanfaat dan menghadirkan fungsi ganda ganda dari suatu benda, seperti bantal ini yang selain menjadi kotak sampah juga bisa digunakan sebagai bantal biasa,” jelas Suroso.

SD 01 Datarajan sendiri merupakan salah satu sekolah dampingan WWF Indonesia untuk program PPB di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Pendampingan yang bertahap dan kontinyu telah dilakukan dengan tujuan penerapan PPB dengan memasukkan isu PPB ke dalam bahan ajar di sekolah, juga mengangkat potensi dan issue lokal yang ada dan berpatokan pada sillabus nasional.