“Tugas yang paling penting jika kita menyelamatkan bumi yaitu dengan cara mendidik"

(The most important task, if we are to save the earth is to educate)

Sir Peter Scott, Founder WWF

“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita maka kembalikanlah secara utuh"

“Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melibatkan cara melihat dunia yang berbeda.”

Inger BjÖrneloo, Pelatih Guru, Universitas GÖteborg Swedia

“Bumi dapat mencukupi kebutuhan umat manusia, tetapi tidak untuk keserakahannya.”

Mahatma Gandhi

“Bumi adalah rumahku, rumahku adalah bumiku, tak heran aku harus menjagamu”

“Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik”

“Pembangunan lestari memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Kebersihan akan melahirkan banyak nilai-nilai positif. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan membuat anda dipenuhi berbagai karakter-karakter positif”

“Siapapun yang merenungi alam semesta, akan tersadar akan besar dan melimpahnya keagungan Zat yang telah menciptakan semesta ini”

Tuhan menciptakan Alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berfikir

Petiklah milyaran hikmah yang terdapat dalam Alam, niscaya Alam tak letih memberikan anda pelajaran tentang kehidupan

Training of Trainer (ToT) Guru-guru Sekolah Dampingan di Lampung

Senin, 6 November 2017, Oleh: Hijrah Nasir 

Dalam Living Planet Report 2016 yang dilakukan oleh WWF International, pada tahun 2012 dibutuhkan kapasitas hayati setara 1,6 planet bumi untuk menyediakan sumber daya alam dan jasa lingkungan yang dikonsumsi manusia pada tahun tersebut. Ini menjadi alarm bahwa planet bumi yang kita huni saat ini memiliki sumber daya alam yang terbatas yang harus dijaga keberlanjutannya. Untuk memelihara keberlanjutan tersebut, peran pendidikan sangat penting dengan memberikan pemahaman bahwa hanya ada satu planet bumi dengan kekayaan alam yang terbatas. Dengan pendidikan, dalam diri anak tertanam pengetahuan yang membuat dia bisa menemukan hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya sehingga dapat memajukan diri sendiri dan dapat dimanfaatkan dengan bijaksana. Selain itu, pendidikan juga dapat menanamkan hal-hal positif sejak dini terhadap anak didik.

WWF-Indonesia telah melakukan lokalatih Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB) di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Jawa, dan Papua dan telah memberikan pendampingan ke 45 sekolah. Sekolah dampingan tersebut harapannya bisa memberikan imbas pada sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya. Di Provinsi Lampung, ada 3 sekolah dampingan yaitu SDN 1 Datarajan, SDN 1 Sukamaju, dan SDN 2 Karangrejo. Untuk penyebarluasan PPB, harapannya ketiga sekolah tersebut bisa menjadi pioneer penyebarluasan PPB. Untuk itu diperlukan pengembangan kapasitas untuk guru-guru tersebut dalam bentuk Training of Trainer (ToT). 

ToT ini dilaksanakan dari tanggal 24 – 27 Oktober 2017 bertempat di Balai Desa Datarajan, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus, Lampung yang diikuti oleh guru-guru sekolah dampingan WWF-Indonesia, yaitu SDN 1 Datarajan, SDN 1 Sukamaju, SDN 2 Karangrejo dan sekolah imbas yaitu SDN 1 Karangrejo. ToT ini difasilitasi oleh Rini Andriani dan Novita dari WWF Indonesia. Pelaksanaan ToT ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada guru-guru tentang prinsip dasar PPB, meningkatkan kapasitas guru dalam menerapkan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dengan pendekatan menyeluruh sekolah, membangun komitmen menyebarluaskan PPB, serta meningkatkan kemampuan guru untuk menyusun metode pelatihan yang akan dilakukan.

 

Pada hari pertama, pelatihan ini diisi dengan materi mengenai jejak ekologis, PPB, serta tema-tema penting dalam ESD. Materi ini diberikan agar peserta memahami konsep tentang jejak ekologis sebagai dasar untuk pembangunan berkelanjutan, memberikan pemahaman mengenai konsep, prinsip, dan sejarah perkembangan PPB, serta untuk mengidentifikasi dan memetakan tema-tema lokal penting untuk pengembangan bahan ajar. 

Dalam salah satu sesi, peserta diminta untuk mengamati toples kaca bening yang tertutup rapat yang diisi dengan tanah, satwa, dan tanaman serta memprediksi berapa lama tumbuhan, satwa, air, pupuk, dan udara akan bertahan di dalam toples, dan berat botol keseluruhan selama setahun. Semua kelompok menjawab bahwa tumbuhan dan satwa akan bertahan selama botol tidak terbuka atau mengalami kerusakan karena terjadi ekosistem di dalam dimana ada pupuk, air, dan oksigen. Jika toples terbuka maka tidak akan bertahan karena tidak terjadi daur udara. Air akan tetap tersedia karena terjadi siklus hidrologi. Pupuk wujudnya habis tapi akan larut dalam air, sementara udara tetap ada karena terjadi fotosintensis karena botol kaca bening yang memungkinkan sinar matahari masuk. Dalam proses tersebut, ada hewan yang menghasilkan karbondioksida dan tumbuhan yang menghasilkan oksigen sehingga terjadi saling ketergantungan. Sementara untuk berat keseluruhan botol akan tetap sama karena terjadi siklus dimana tumbuhan ada masanya mati, lalu ada yang tumbuh sehingga berat botol tetap sama. Media botol ini adalah miniatur bumi yang tertutup rapat. Jika terjadi kebocoran dari tutup toples sama seperti gas rumah kaca yang terjadi di bumi. Bumi yang sehat diharapkan bisa terjaga dari generasi ke generasi. 

Hari berikutnya fasilitator memberikan materi mengenai Pengajaran dan Pembelajaran dalam ESD dan integrasi ESD dalam kurikulum yang bertujuan agar peserta memahami prinsip-prinsip pembelajaran dan mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran dalam ESD serta mampu memetakan tema-tema lokal dan standar isi dalam KTSP atau K-13 dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran baik yang diintegrasikan kedalam satu mata pelajaran maupun yang bersifat tematis, serta mampu mempraktekan pengajaran ESD. Materi mengenai pendekatan menyeluruh sekolah tentang ESD dan materi merancang dan melaksanakan kegiatan pelatihan ESD untuk pendidik menjadi pembahasan pada hari ketiga dalam ToT ini. Hari terakhir ToT diisi dengan praktek hasil merancang pelatihan, baik dalam hal materi maupun metodenya serta evaluasi dan rencana tindak lanjut. 

Di akhir sesi, peserta menuliskan harapan dan rencana tindak lanjut dari pelatihan ini. Secara umum peserta mengharapkan adanya pendampingan lanjutan mengenai pemanfaatan sampah, metode pembelajaran tentang energi alternatif serta perancangan alat peraga pembelajaran. Adapun rencana tindak lanjut dari pelatihan ini adalah masing-masing sekolah akan melakukan sosialisasi tentang PPB ke sekolah lain, melakukan penataan taman sekolah, taman bacaan, taman bermain, serta pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan bahan anorganik menjadi bahan yang bernilai jual.