“Tugas yang paling penting jika kita menyelamatkan bumi yaitu dengan cara mendidik"

(The most important task, if we are to save the earth is to educate)

Sir Peter Scott, Founder WWF

“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita maka kembalikanlah secara utuh"

“Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melibatkan cara melihat dunia yang berbeda.”

Inger BjÖrneloo, Pelatih Guru, Universitas GÖteborg Swedia

“Bumi dapat mencukupi kebutuhan umat manusia, tetapi tidak untuk keserakahannya.”

Mahatma Gandhi

“Bumi adalah rumahku, rumahku adalah bumiku, tak heran aku harus menjagamu”

“Bergabunglah bersama kami untuk membuat dunia menjadi lebih baik”

“Pembangunan lestari memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Kebersihan akan melahirkan banyak nilai-nilai positif. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan membuat anda dipenuhi berbagai karakter-karakter positif”

“Siapapun yang merenungi alam semesta, akan tersadar akan besar dan melimpahnya keagungan Zat yang telah menciptakan semesta ini”

Tuhan menciptakan Alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berfikir

Petiklah milyaran hikmah yang terdapat dalam Alam, niscaya Alam tak letih memberikan anda pelajaran tentang kehidupan

6 Dasar Pijakan dalam ESD

1. Pembelajaran Seumur Hidup  

Perkembangan menuju sebuah masyarakat berkelanjutan adalah sebuah proses terus-menerus dimana kita harus tetap merenung, berpikir ulang, dan mereformasi diri. Hal tersebut memerlukan pembelajaran jangka panjang dalam beragam tahapan dan peran dalam hidup, seba­gai seorang pelajar atau guru, konsumen atau produsen, warga negara biasa atau politikus. Sementara masyara­kat dibekali pendidikan dasar formal sembilan tahun, se­kolah lanjutan pertama, sekolah lanjutan atas, dst. Setiap hari hidup menawarkan pembelajaran informal dan te­rus-menerus seumur hidup. Anak-anak mulai dari me­rangkak, belajar berbicara, mengendarai sepeda, dan lalu tibalah saatnya mereka bersekolah. Beragam pro­gram TV, buku, kontak dengan sesama manusia dalam skala yang berbeda dan luas, perjalanan, situasi, senang dan sedih, dsb. Mungkin, rasa ingin tahulah yang jadi kunci untuk pembelajaran seumur hidup: keingintahuan pencarian, penemuan, mengagumi dan memperhatikan. Jalan menuju ke pengetahuan sebenarnya jarang sekali lurus dan sederhana, tetapi seringkali bergelombang dan penuh lika-liku. Oleh sebab itu, rasa ingin tahu menja­di jembatan antara diri kita dan kenyataan serta antara anda dan saya. Segala sesuatu yang kita pelajari mempengaruhi ba­gaimana kita secara individu memahami dunia di sekitar kita. Karenanya, dalam konteks pendidikan yang ber­beda, pengalaman pribadi dan pengetahuan menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan dan diakui kebera­daannya.

2. Fokus Pada Pembelajar 

Mendapatkan pengetahuan mungkin merupakan sebuah proses yang sulit dan melelahkan, tetapi bagaimanapun juga mudah dilakukan – belajar melekat dengan indahnya ke dalam tubuh dan bersifat pribadi. Saya memasukkan pengetahuan dalam proses belajar seumur hidup seiring dengan lingkungan sosial. Di saat-saat tertentu, sendi­ri, kadang-kadang saya bertukar pikiran dan ide dengan orang lain. Belajar memerlukan ruang sepanjang wak­tu, baik dalam konteks sosial dan budaya. Pandangan pengetahuan seperti itu menekankan pentingnya permu­laan dari pengetahuan sebelumnya dari individu dimana pengetahuan tersebut dibentuk. 

3. Pendekatan Holistik 

Sebuah pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan yang dirasakan sesuai memiliki arti dan berdasarkan pada kenyataan, difasilitasi oleh pendekatan holistik. Sebuah pengetahuan dasar tentang lingkaran hijau, ke­rangka kerja ekologis paling luar yang membentuk dasar dari masyarakat memegang peran penting. Pengetahuan tersebut dapat berupa kerangka kerja ekologis, pemiki­ran yang sistematis, aliran energi, beragam siklus yang berbeda, interaksi dengan alam, dan keanekaragaman hayati. Dapat juga berupa pengetahuan tentang bera­gam keperluan manusia, bahasa, budaya, kreativitas dan pertanyaan-pertanyaan tentang etika dan makna hidup, demikian juga tentang bagaimana kita, dengan bantuan teknologi dapat merespon beragam tantangan keperluan energi masa depan dan beragam konstruksi penyelama­tan sumber daya alam. 

Saat saya sarapan dengan roti yang diolesi mente­ga dan menerawang jauh ke sudut luar cangkir teh, saya menyadari bahwa tindakan yang saya lakukan mem­pengaruhi hutan hujan tropis di belahan dunia lain. Ke­banyakan apa yang saya makan mengandung minyak ke­lapa sawit, minyak goreng yang diproduksi di atas lahan konversi hutan hujan tropis di negara Malaysia dan Indo­nesia. Hidup ini sangat kompleks, saat ini sudah tidak mungkin untuk mempelajari setiap bagian sendiri-sen­diri, setiap subyek terisolasi dari yang lainnya. Sega­la sesuatunya saling berhubungan. Tingkah laku sosi­al saya memiliki konsekuensi ekologis, demikian juga beragam gangguan ekologis dapat memaksa saya menja­lani kehidupan yang berbeda. 

4. Beragam Metode Kerja Demokratis 

Pembangunan Berkelanjutan mengasumsikan partisipa­si dan komitmen menjadi bagian dari diri setiap orang. Kita memberi pengaruh pada pembangunan sosial dalam beragam peran berbeda, sebagai konsumen dan produsen, dan sebagai politisi dan pemberi suara. Secara alami kita tidaklah terlahir demokratis. De­mokrasi adalah sesuatu yang harus kita pelajari dalam masa-masa pembentukan kehidupan. Kita menciptakan demokrasi secara bertahap. Jika kita ingin menjadi ba­gian yang tak terpisahkan dari struktur sosial dan kon­struksi, kita perlu ikut terlibat, bersungguh-sungguh dan tetap termotivasi. Dalam masa muda kita, hal tersebut dapat berupa menjalankan beragam peran sosial; toleran, mengungkapkan beragam ide, mendengarkan orang lain, menghormati sesama sebagai rekan yang setara, serta menghormati pandangan orang lain, saling bekerja sama, bertanggungjawab, penuh pemikiran dan berpartisipasi, dll. Demokrasi terakhir termasuk pemikiran menda­lam, menguji argumentasi-argumentasi seseorang dan mengambil beragam keputusan demokratis. 

Demokrasi di sekolah difasilitasi jika seluruh kompo­nen organisasi sekolah – yaitu staf, kepala sekolah, pelajar dan orang tua – secara nyata mempraktekkan demokrasi. Pengaruh pelajar dapat bersifat formal atau informal, individual atau kolektif, dan dapat mencakup apa saja mulai dari perencanaan pengembangan individu dan dialog hingga ke dewan pelajar dan kerjasama dengan masyarakat lokal. 

Demokrasi diasosiasikan secara dekat dengan peng­etahuan. Haruskah kita meningkatkan kemampuan diri dan mengembangkan pengetahuan, atau haruskan kita mencari jawaban yang sulit kepada para ahli? Tidakkah kita perlu pengetahuan yang relevan jika kita ingin ber­partisipasi dalam sebuah proses demokratis? Bukankah pengetahuan adalah keharusan terhadap demokrasi, dan pengetahuan adalah kekuatan? 

5. Berfikir Mendalam 

Kita hidup di tengah himpitan beragam arus pengaruh yang tiada henti. Kita hanya dapat sedikit menyerap dan mengambil pengalaman dari itu semua. Yaitu saat kita berpikir mendalam bahwa pengalaman berubah menjadi pengetahuan. 

Adalah penting untuk sesekali berhenti dan berpikir mendalam. Berpikir dapat dilakukan dalam berbagai cara. Dapat dilakukan dalam keadaan tenang, terus-menerus, dan berdialog dalam hati. Juga dapat dilakukan dalam diskusi terstruktur dengan orang lain. Bentuknya dapat bermacam-macam. Mendengarkan, berbicara, menulis, kreativitas seni, dan seterusnya – kesemuanya adalah pe­ralatan penting dalam proses berpikir mendalam. Do­kumentasikan apa yang anda lakukan, miliki pemikiran yang kritis dan terbuka serta banyak bertanya kesemua­nya sangat berguna, berfungsi sebagai alat untuk berpi­kir mendalam. Kita tidak memiliki persediaan jawaban yang siap untuk menjawab beragam pertanyaan seputar pembangunan berkelanjutan dalam masyarakat yang te­rus berubah. Kita perlu berpikir terus-menerus dengan beragam cara baru dan mempertanyakan tren terbaru dan cara-cara berpikir melalui pendidikan yang berorientasi pada proses. Di dalamnya termasuk para guru. Berani berubah dan belajar bermacam cara baru! 

6.  Beragam Perspektif yang Berbeda 

“Akankah srigala-srigala itu datang dan memangsa anak-anak kita?” 

 “Rusa lain korban pembantaian srigala …”

Kedua headline surat kabar tersebut sangat berbau kekeja­man yang ditujukan ke kawanan srigala. Tetapi juga terda­pat penafsiran yang lain. Resiko terluka atau terbunuh oleh seekor srigala hampir tidak ada. Membayangkan bahwa kawanan srigala dapat memusnahkan populasi rusa besar adalah mengada-ngada, ujar yang lain. 

Kehidupan dapat dilihat dari beragam cara pandang, yaitu perspektif etis, historis, dan internasional. Beragam cara pandang tersebut dapat saling bertentangan atau saling melengkapi. Pendidikan dalam perspektif budaya menda­sarkan segala sesuatunya pada kenyataan sehari-hari, lo­kalitas, dan fakta yang menekankan pada pendekatan ter­buka dan liberal terhadap beragam isu dan masalah. Dari hal tersebut, maka terciptalah suasana kondusif untuk pengembangan diri pribadi seseorang untuk menciptakan solusi yang terbaik. Kita tidak akan menyelesaikan perma­salahan srigala dengan membuat generalisasi secara mem­babi buta, tetapi kita seharusnya melakukannya melalui dis­kusi yang terhormat. Sebuah cara pandang yang berbeda pada isu-isu seperti ini mengarah ke pertanyaan-pertany­aan yang berhubungan dengan bagaimana cara kita hidup berdampingan dengan damai bersama srigala.

Orang mengembangkan beragam perspektif bergan­tung pada kapan dan dimana mereka tinggal. Di masa lalu orang hidup dan bekerja lebih dalam konteks lokal. Orang bekerja pada ladang dan hutan mereka masing-masing dan jarang melakukan perjalanan yang jauh. Banyak dari mereka yang benar-benar tidak menyadari bahwa terda­pat beragam negara dan masyarakat yang letaknya ribuan kilometer jauhnya. Pada saat ini, banyak dari kita yang pulang pergi untuk bekerja dan melakukan perjalanan ke sisi lain dunia untuk liburan. Kita dapat mengikuti apa yang terjadi di luar negeri kapan saja kita suka. Kita dapat berkomunikasi secepat kilat dengan bantuan telepon selu­ler dan internet. Kadang-kadang kita hidup dalam dunia tanpa batas; pada sebuah desa global, dengan cangkul di tangan yang satu dan dengan sebuah handphone di tangan yang satunya lagi. Dalam terminologi pendidikan hal ini berarti memupuk keterbukaan terhadap beragam perspek­tif dan cara pandang. (Sumber: Learning The Sustainable Way /Belajar Cara Hidup Berkelanjutan, WWF Swedia 2007/2008)